Netizenia.com- Fitnah akhir zaman menjadi salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat. Berbagai fitnah ini akan menguji keimanan manusia, menggoyahkan kebenaran, dan menjaring banyak orang ke dalam kesesatan.
Dalam buku Agar Hati Tak Mati Berkali-Kali karya Muhammad Albani, dijelaskan makna fitnah yang artinya adalah cobaan, ujian, bencana, dan malapetaka.Selain itu, dosa syirik dan kekufuran juga disebut fitnah.
Maka dari itu, secara garis besar istilah ‘fitnah’ berarti suatu hal yang bis amenjadi bencana atau cobaan yang dapat memperdaya dan menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus.
Latas, apa saja fitnah yang terjadi menjelang hari kiamat? Berikut ini daftarnya.
Menurut buku Kiamat Sudah Dekat? tulisan Dr. Muhammad al-‘Areifi, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bila kiamat tidak akan pernah terjadi, kecuali didahului oleh tiga macam fitnah.
Tiga macam fitnah tersebut adalah Al-Ahlas, As-Sarra, dan Ad-Duhaima. Sebagaimana hadits di bawah ini.
Abdullah ibn Umar menuturkan, “Suatu ketika, kami duduk bersama Rasulullah SAW Beliau berbicara tentang berbagai macam fitnah, sampai akhirnya beliau menyebut tentang fitnah al-Ahlas. Seorang sahabat lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan fitnah al-Ahlâs?’ Beliau menjawab, ‘Pertikaian dan penjarahan. Setelah itu muncullah cobaan berupa kenikmatan duniawi (fitnah as-Sarra), yang asapnya berasal dari bawah kaki salah seorang keluargaku. la mengaku berasal dariku, padahal sesungguhnya ia bukan dariku. Sedangkan para wali-ku adalah mereka yang bertakwa. Lalu, orang-orang akan berbaiat untuk seseorang, seperti tulang rusuk menyangga tulang pinggul. Setelah itu, muncul fitnah ad-Duhaima (bencana mahadahsyat), yang akan menerpa seluruh umat ini tanpa terkecuali. Jika orang menyangka fitnah (malapetaka) itu sudah sirna, maka pada hakikatnya fitnah itu terus bertambah berat dan lama. Saat itu, seseorang beriman pada pagi hari dan kafir pada sore harinya, hingga manusia terpecah menjadi dua kelompok, satu kelompok orang beriman tanpa kemunafikan, dan satu kelompok lagi adalah orang-orang munafik tanpa iman. Apabila itu telah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu ataupun pada esok harinya’.”
Berdasarkan hadits di atas, di akhir zaman nanti manusia akan dihadapkan oleh tiga fitnah, yakni fitnah Al-Ahlas, Fitnas As-Sarra, dan Fitnah Ad-Duhaima. Berikut adalah penjelasannya.
Fitnah Al-Ahlas
Dalam bahasa Arab, istilah Al-Ahlas merupakan bentuk jamak dari kata Hils, yang mengacu pada sejenis kain alas yang diletakkan di atas punggung unta, tepat di bawah pelana. Kain ini memiliki ciri khas selalu menempel erat pada unta, tidak terpisahkan dalam perjalanan panjang maupun dalam keadaan diam.
Dari sini, makna kiasan fitnah al-Ahlas menggambarkan sebuah ujian atau cobaan yang terus melekat dalam kehidupan manusia. Fitnah ini begitu erat, seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, hadir dalam berbagai aspek kehidupan tanpa memberi ruang jeda.
Lebih dari sekedar ujian biasa, fitnah al-Ahlas diibaratkan sebagai kegelapan yang pekat, serupa dengan warna kain yang menempel di punggung unta, suram, menyesakkan, dan sulit dihindari.
Fitnah As-Sarra
Dalam kehidupan, tidak semua ujian datang dalam bentuk kesulitan atau penderitaan. Ada kalanya cobaan justru muncul dari sesuatu yang tampak membahagiakan, itulah yang disebut fitnah As-Sarra.
Secara harfiah, istilah ini merujuk pada ujian yang berasal dari limpahan kenikmatan, seperti kesehatan yang prima, kesejahteraan finansial, atau kemakmuran yang melimpah. Lalu, inilah penjabaran fitnah-fitnah yang termasuk dalam fitnah As-Sarra.
Fitnah Kenikmatan adalah Ujian
Pada pandangan pertama, kenikmatan-nikmat ini tentu dianggap sebagai anugerah yang membawa kebahagiaan. Namun, bagi sebagian orang, justru di letak ujian yang sebenarnya.
Kemudahan dan kenyamanan hidup sering kali membuat seseorang terlena, hingga tanpa sadar terseret dalam perbuatan maksiat.
Kekayaan bisa menumbuhkan rasa putus asa, kesehatan bisa melahirkan kelalaian, dan kemakmuran bisa menjauhkan seseorang dari rasa syukur.

Fitnah dari Keturunan Nabi
Selain itu, sebagaimana isi pada hadits di awal, fitnah tidak hanya muncul begitu saja tanpa sebab, rasulullah SAW menggambarkan pemicu fitnah seperti asap yang mengepul dari api ketika kayu bakar kering ditambahkan.
Bayangkan ketika api yang awalnya tenang tiba-tiba mendapat tambahan bahan bakar, seketika asapnya membumbung tinggi, menandakan kobaran yang semakin besar.
Begitu pula dengan fitnah, ia bermula dari percikan kecil yang kemudian berkembang menjadi gelombang besar yang mengguncang umat.
Ungkapan “dari bawah kaki salah seorang keluargaku” menandakan bahwa sumber pemicu fitnah ini berasal dari salah seorang keturunan Nabi Muhammad SAW sendiri.
Ini bukan sekedar informasi biasa, tapi sebuah peringatan besar. Rasulullah memberi isyarat bahwa ada seseorang dari keturunannya yang, dengan atau tanpa disadari, akan menjadi pemicu atau pengendali fitnah tersebut.
“la mengaku berasal dariku” maksudnya bahwa ada orang yang secara nasab memang berasal dari garis keturunannya, namun tindakan mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran yang beliau bawa. Oleh karena itu, Rasulullah dengan tegas melepaskan diri dari mereka.
Seseorang tidak bisa hanya mengandalkan garis keturunannya sebagai bukti kedekatannya dengan Rasulullah jika perbuatannya bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam sejarah, kita melihat banyak tokoh yang mengaku memiliki hubungan dengan Nabi Muhammad SAW, namun justru mereka malah bisa menjadi sumber perpecahan dan fitnah di tengah umat.
Kemudian, makna kata “Sesungguhnya ia bukan dariku” pada hadits di awal, artinya ia tidak termasuk keluarga Nabi, karena ia menyulut api fitnah.
Fitnah dari Pemimpin Akhir Zaman
“Lalu, orang-orang akan berbaiat untuk seseorang, seperti tulang rusuk menyangga tulang pinggul”,
Dalam sejarah, ada masa di mana masyarakat dengan penuh harapan membaiat seseorang sebagai pemimpin. Namun, seiring waktu, harapan itu berubah menjadi kekecewaan karena kepemimpinannya justru membawa ketidakstabilan.
Rasulullah menggambarkan situasi ini dengan analogi yang tajam, seperti tulang pinggul dan tulang rusuk.
Tulang pinggul adalah struktur yang kokoh, menopang beban tubuh dan memastikan keseimbangan. Sementara itu, tulang rusuk lebih kecil, lebih rapuh, dan tidak didesain untuk menahan beban berat.
Ketika sesuatu yang lemah dipaksa menanggung sesuatu yang besar, hasilnya bisa dipastikan berantakan. Begitulah kondisi kepemimpinan yang jatuh ke tangan orang yang tidak memiliki kapasitas.
Seorang pemimpin tanpa ilmu, tanpa visi, dan tanpa kebijaksanaan akan membuat sistem pemerintahan kacau. Peraturan menjadi tumpul, kebijakan tidak berjalan efektif, dan rakyat dibiarkan dalam ketidakpastian.
Dalam konteks modern, kita sering melihat fenomena ini. Pemimpin yang terpilih bukan karena kapabilitasnya, tetapi karena popularitas atau kepentingan kelompok tertentu.
Akibatnya, masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang tidak terselesaikan, seperti ketidakadilan merajalela, ekonomi terpuruk, dan kepercayaan terhadap pemerintah semakin menipis.
Fitnah Ad-Duhaima
Fitnah Ad-Duhaima digambarkan sebagai bencana besar yang lebih dari sekadar ujian biasa.
“Yang akan menerpa seluruh umat ini tanpa terkecuali” maksudnya Rasulullah menyebutnya sebagai malapetaka besar yang menyapu siapa saja tanpa memandang bulu, tidak ada yang benar-benar aman darinya.
Salah satu hal paling mengerikan dari Fitnah Ad-Duhaima adalah bagaimana ia bisa mengubah seseorang dalam waktu singkat.
Rasulullah SAW menggambarkannya dengan pernyataan, “Seseorang beriman di pagi hari, tetapi kafir di sore hari.” Ini bukan hanya tentang kehilangan keyakinan, tetapi juga perubahan drastis dalam moral dan perilaku.
Bayangkan, seseorang di pagi hari masih menjaga kehormatan orang lain, menghormati hak-hak sesama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Namun, begitu tiba-tiba, ia berubah menjadi sosok yang tak segan menumpahkan darah, merampas hak orang lain, bahkan merusak kehormatan manusia.
Ini menunjukkan bahwa Fitnah Ad-Duhaima bukan sekadar ujian biasa, melainkan sebuah gelombang kegelapan yang mampu menggoyahkan prinsip seseorang, mengubah nilai-nilai kebaikan menjadi kebrutalan dalam sekejap mata.
Kabar baik, fitnah ini belum muncul. Namun, bukan berarti kita bisa berleha-leha. Rasulullah telah memberikan peringatan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai tanda agar kita selalu waspada.
Di zaman yang penuh dengan manipulasi informasi, kebencian yang disebarkan dengan mudah, serta hilangnya rasa kemanusiaan, kita mungkin sudah mulai melihat tanda-tandanya. Oleh karena itu, doa dan keteguhan iman menjadi tameng utama agar kita tidak terjerumus ke dalam badai yang akan menggemparkan dunia ini.