Banyak kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi muslim. Salah satunya kisah tiga orang Bani Israil yang diuji oleh Allah SWT.ilustrasi 3 orang bani Israil (netizenia.com)

Netizenia.com- Kisah tiga orang Bani Israil yang diuji harta dan tahta merupakan salah satu cerita penuh hikmah yang diajarkan dalam Islam. Kisah ini menceritakan tentang tiga orang dari Bani Israil yang memiliki kondisi berbeda.

Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah.

Harta dan kekuasaan tidak menjamin kebahagiaan, melainkan bagaimana kita menggunakannya untuk kebaikan. Kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari materi, namun dari seberapa besar kita tetap rendah hati dan bersyukur dalam setiap keadaan.

Kisah Tiga Orang Bani Israil Diuji Allah SWT

Kisah ini dikutip dari buku Akidah Akhlak Untuk Madrasah karya  Drs. H. Masan AF, M.Pd,  bahwa ada Tiga orang Bani Israil yang mendapatkan ujian dari Allah. Salah satu dari mereka menderita penyakit kusta, yang lain menderita kebotakan, dan satu lagi muncul dalam keadaan buta. Untuk menguji mereka, Allah mengutus seorang malaikat agar mendatangi mereka masing-masing.

Mula-mula, malaikat mendatangi dan bertanya kepada pria yang menderita kusta, “Apa yang engkau inginkan?”

“Aku ingin rupa yang bagus dan kulit yang halus, sehingga orang tidak jijik melihatku”, balas orang yang berpenyakit kusta.

Malaikat menyentuh tubuhnya, dan seketika penyakit yang mengganggu itu hilang sepenuhnya. Setelah itu, malaikat kembali mengajukan pertanyaan, “Harta apa yang engkau inginkan?”

“Unta.” Orang itu pun menjawab, lalu ia diberikan seekor unta yang sedang hamil.

Kemudian, malaikat beralih bertanya kepada pria yang menderita kebotakan., “Apa yang engkau inginkan?”

“Rambut”, Orang yang mengalami kebotakan itu pun menjawab.

Lalu, malaikat mengusap kepalanya, dan seketika rambut mulai tumbuh lebat. Setelah itu, malaikat kembali mengajukan pertanyaan. “Harta apa yang engkau inginkan?”

“Aku menginginkan sapi”, Orang itu pun memberikan jawaban. Kemudian, ia diberi seekor sapi yang sedang hamil sebagai anugerah.

Selanjutnya, malaikat mendatangi seseorang yang buta dan bertanya, “Apa yang paling kamu inginkan?”

Orang buta itu menjawab, “Aku ingin bisa melihat lagi.”

Maka, malaikat mengusap wajahnya, dan seketika penglihatannya pun kembali. Setelah itu, malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang kamu inginkan?”

Orang tersebut menjawab, “Kambing.” Maka, ia pun diberikan seekor kambing yang sedang hamil.

Beberapa tahun berlalu, unta, sapi, dan kambing yang diberikan kepada orang ketiga tersebut, yang sebelumnya miskin dan menderita kusta, kebotakan, serta kebutaan telah berkembang pesat.

Dari waktu ke waktu, jumlah ternak mereka terus bertambah. Orang yang dulunya mengidap kusta kini menjadi kaya dengan peternakan yang luas. Sementara itu, pria yang sebelumnya botak telah berubah menjadi peternak sapi yang makmur. Sedangkan orang yang dulunya buta kini sukses sebagai pemilik peternakan kambing.

Suatu hari, seorang malaikat datang dengan wujud seorang pengidap kusta. Ia menghampiri mantan penderita kusta yang kini telah kaya dan berkata, “Tuan, saya hanyalah seorang musafir miskin yang kehabisan bekal. Mohon bantu saya agar dapat melanjutkan perjalanan.” Namun, pria kaya itu menolak dengan alasan, “Maaf, saya tidak bisa membantu karena memiliki banyak utang.”

Malaikat itu lalu berkata, “Sepertinya saya mengenali tuan. Bukankah dulu tuan adalah orang miskin yang menderita kusta?”

Dengan tegas, pria itu menyangkal, “Tidak! Itu tidak benar! Semua harta ini berasal dari warisan ayah dan kakek saya.”

Mendengar jawaban tersebut, malaikat berkata, “Jika tuan berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaan tuan seperti semula.”

Kemudian, malaikat mendatangi pria kaya kedua yang sebelumnya menderita penyakit gundul. Seperti sebelumnya, malaikat menyamar dan meminta pertolongan dengan cara yang sama.

Namun, pria tersebut memberikan jawaban serupa dengan orang pertama, ia menolak untuk membantu dan mengingkari keadaannya di masa lalu.

Mendengar hal itu, malaikat berkata, “Jika tuan berdusta dan mengingkari kebenaran, semoga Allah mengembalikan keadaan tuan seperti semula.”

Terakhir, malaikat menemui orang kaya ketiga yang dulunya buta. Seperti sebelumnya, malaikat menyampaikan permohonannya sebagaimana yang telah ia lakukan kepada dua orang sebelumnya.

Namun, pria yang dulunya buta itu menjawab dengan jujur, “Benar, dahulu saya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatan saya. Karena itu, saya bersyukur kepada-Nya. Ambillah harta yang saya sukai, dan sisakanlah sekehendakmu. Saya ikhlas memberikannya.”

Mendengar jawaban itu, malaikat berkata, “Peliharalah hartamu, karena aku tidak akan mengambilnya. Sebenarnya, ini adalah ujian, dan kamu telah berhasil melewatinya. Dengan demikian, Allah meridai kamu, sedangkan kedua temanmu mendapat murka-Nya.”

Begitulah kisah tiga orang Bani Israil yang pernah menderita penderitaan dan berjanji akan berbuat baik jika keadaan mereka berubah menjadi lebih baik. Namun, dua di antara mereka justru melupakan janji tersebut dan tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah.

Akibatnya, Allah murka kepada keduanya dan mengembalikan mereka ke kondisi semula. Sebaliknya, orang yang tetap bersyukur atas nikmat Allah mendapatkan rida-Nya, dan rezekinya pun semakin bertambah.

Makna Ujian Allah SWT

Kisah Tiga Orang Bani Israil Diuji Allah SWT dengan Sakit dan Harta
ilustrasi orang yang sakit (netizenia.com)

Dalam buku Seni Menikmati Hidup : Perspektif Al-Quran, Hadis, dan Ulama’ tulisan Abdul Aziz, bahwa cobaan dalam hidup bukan sekadar bentuk kesulitan, tetapi juga merupakan sarana bagi seseorang untuk mendapatkan pahala dan memaafkan dosa jika dijalani dengan kesabaran dan keimanan.

Allah SWT menjadikan ujian sebagai cara untuk meningkatkan derajat seseorang di sisi-Nya, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan, ujian sekecil apa pun, seperti tertusuk duri, dapat menghapus dosa jika diterima dengan lapang dada.

Selain itu, teks ini menekankan bahwa cobaan, baik berupa penyakit, kesulitan ekonomi, maupun tantangan hidup lainnya harus dihadapi dengan sabar dan penuh keikhlasan, karena di balik setiap ujian terdapat hikmah yang besar.

Allah, sebagai Maha Bijaksana, memberikan cobaan bukan tanpa alasan, tetapi sebagai bentuk kasih sayang-Nya agar manusia semakin dekat kepada-Nya. Dengan memahami bahwa semua kesulitan adalah bagian dari rencana Allah, seseorang akan mampu menjalaninya dengan lebih tenang dan penuh ketakwaan.

Itulah pembahasan mengenai makna ujian dalam ajaran Islam, serta kisah tiga orang Bani Israil yang Allah SWT uji dengan kesusahan dan kenikmatan secara bersamaan. Semoga kisah ini memberikan pemahaman bagi kita tentang rasa syukur dan keagungan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *